Selasa, 02 Februari 2016

Rumah

"Tak peduli berapa jauh kaki ini melangkah. Tak peduli berapa lama ku menjauh. Pasti ku kan kembali. Semua yang terjadi berawal dari sini. Dimana kumulai melangkah"



Setiap manusia memiliki tempat untuk kembali. Sama seperti diriku. Segala keluh kesah, tawa canda, isak tangis semua tercurahkan padamu. Kamu bukan rumah untuk kutinggali secara fisik. Tapi kamu tempat dimana hati ini tahu rasa nyaman.

Tapi nyaman tak sepenuhnya sempurna. Bosan akan menjadi hantu yang menggoda. Memaksa terus menerus agar diri ini menjauh dari rumah.

Bukan kah disana lebih indah?
Kenapa tak mencoba diam disana?

Tak ada salahnya mencoba. Sekejap kumasuk kedalam bujuk rayu bosan. Layaknya hembusan angin. Lembutnya sutra. Senyuman yang membunuh secara perlahan. Ku mulai merasakan kenyamanan yg berbeda. Lebih hangat. Baru. Hingga mulai melupakan dirimu.

Disini bosan tak kudapatkan. Tapi selalu ada kekurangan. Tak terasa pada awalnya. Kuhanya menikmati ini. Tak peduli apapun yang terjadi. Hingga semua kenyamanan baru ternyata semu.


Melihat senyummu. Ku tersadar. Lalu menyesal. Ku berhenti. Ku berbalik. Lalu pulang, hanya pulang yang bisa kulakukan.


Kuhanya pergi bermain. Bukan untuk menemukan rumah baru. Rumahku hanya kamu. Rumahku tetap berada disana. Tak jauh dari titik awal. Tepat di kandang kelinci. Melihat kelinci kecil yang sudah menjadi dewasa. Begitu berbeda sejak pertama kaliku melihatnya.

Tapi bagiku, dia tetaplah kelinci kecil. Dan akan terus seperti itu.


Seperti itu....
Share:

0 komentar:

Posting Komentar