Kamis, 29 Desember 2016

Siapa kamu?



Siapa kamu?
Kamu dengan perangaimu yang misterius. Kamu dengan sejuta tanda tanya disetiap balik kata. Kamu yang tiba-tiba datang dikesepian

Entah sejak kapan kamu berdiri disana. Berdiri seakan kau sudah mengenalku lama. Mengulurkan tangan. Mencoba untuk membantuku bangkit.
"Kusudah terbiasa dengan ini. Terbiasa jatuh dan terperangkap"

Tak biasanya ku menawarkan bantuan. Memposisikan diri sebagai kacung demi menyelesaikan masalah. Ya! Kurasa ini karena keadaanmu. Beradaptasi membutuhkan waktu. Sedangkan dunia ini tidak memberikan kamu waktu. Ya! Aku pun baru didunia ini. Tapi, ini duniaku yang telah lamaku impikan.

Mencoba untuk ikhlas memang sulit. Memberi tanpa mengharap balasan adalah sesuatu yang ku tak mampu. Ada alasan dibalik bantuanku. Ya! Aku pamrih. Tak ada alasan untukku mengelak. Ku tau Tuhan tak mengajarkan kita untuk pamrih. Tapiku pikir manusiawi jika ku pamrih.

Tak adil rasanya jika ku tak dibayar. Sudah kubilang aku pamrih. Tapi kau lebih tak adil. Senyuman tipismu membayar semuanya. Membayar rasa lelah, stress, dan hal buruk lainnya. Tingkah gilamu membuatku tak mengerti. Kenapa kamu bisa masuk keduniaku? Duniaku gila dan penuh hal-hal bodoh. Tapi kamu selolah sudah lama tinggal disana.

Siapa kamu?
Mencari jawaban terus menerus pun percuma. Harus kamu yang menjawab. Tak usah terlalu banyak. Hanya itu saja. Siapa kamu?

Lagipula, sudah terlanjur.
Selamat datang diduniaku. Akan ku bantu untuk tinggal. Walau ku tak mengenalmu
Share:

Rabu, 13 Juli 2016

#CintaMemangTakAdil




Cinta....

Cinta memang egois. Hanya akan memikirkan dunianya
Cinta memang kuat. Seberat apapun akan tetap dilewatinya
Cinta memang bodoh. Tak peduli yang dia lakukan benar atau salah

Kadang cinta berubah rumit

Membiarkan hati terjebak persimpangan
Memberikan pilihan tapi bukan sebuah jawaban
Menyisakan sebuah beban disetiap pilihan

Membangun hati utuh kembali tapi tak akan sama
atau
Membiarkan larut dalam kesedihan

Cinta harusnya berakhir indah

Menambatkan hati pada singgasananya
Membiarkan dia bertahta diatas segala kuasa
Memperbudak rasa egois demi sebuah akhir harmonis

Dan cinta....

Cinta Memang Tak Adil

Tak saling kenal tapi muncul rasa memiliki

Mata yang melihat tapi hati yang merasakan
Hanya dengan sebuah tatapan, senyuman itu mampu menghangatkan
Memberikan sebuah sensasi rohani
Menjadikan hati seperti pelangi

Tak sekalipun saling sapa
Tak sekalipun betatap muka
Tapi cinta bisa hadir diantaranya

Entah apa yang menjadikan itu rasa
Tapi pasti cinta hadir dengan sendirinya

Cinta itu tak beraga
Dia bisa terbang kemanapun dia suka
Hinggap disetiap hati
Sampai menemukan yang sejati

Dan mungkin karena itu
Cinta ini terus terbang kemanapun
Termasuk kearahmu
Berharap bahwa ada tempat untuk tinggal
Walau nyatanya kita tak saling kenal

Bahkan mungkin tak akan pernah kenal........
Share:

Senin, 29 Februari 2016

Dilema

"Hati ini harus memilih. Tapi tak sanggup memilih. Ku tak ingin ada yang sakit. Mengertilah. Ini sulit"




Kehidupan ini selalu antara pilihan. Dibaliknya terselimut ketentuan. Bahkan muncul penyesalan. Walau perlahan, penyesalan tetap tak datang diawal.


Ku bukan manusia yang bijaksana. Yang memilih dengan bijak dan siap menerima keadilan dari apa yang kupilih.

Ku pun bukan manusia yang tega. Yang tak peduli dengan apa yang kutinggalkan begitu saja. Walau kutahu akan menyakitkan

Menyakitkan untuk memilih. Tapi ku tak bisa berpaling dari pilihan. Munafik diri ini jika tak memilih. Hati ini harus terisi tapi tak menyakiti. Bukan kusenang untuk sendiri. Tapi mungkin ini jarang untuk kembali.

Sepi? Tidak. Banyak kawan menemani. Tapi ini berbeda dari sepi. Kubutuh belahan hati. Atau sekedar penyemangat diri. Mereka bisa jadi itu. Mereka layak. Tapi yang kubutuh bukan mereka. Ku butuh dia.

Dia yang sampai saat ini tanda tanya
Dia yang membuatku jatuh dalam dilema
Dia yang memaksaku harus menyakiti
Dia yang mungkin bukan pilihan
Atau ternyata Dia yang paling tepat

Mungkinkah kuharus lari? Tapi itu bukan solusi

Atau haruskah ku bersembunyi? Walau itu tak mungkin

Menghadapi tanpa memiliih hanya akan menambah perih

Hati. Kenapa harus pada hati ini?


Share:

Selasa, 02 Februari 2016

Rumah

"Tak peduli berapa jauh kaki ini melangkah. Tak peduli berapa lama ku menjauh. Pasti ku kan kembali. Semua yang terjadi berawal dari sini. Dimana kumulai melangkah"



Setiap manusia memiliki tempat untuk kembali. Sama seperti diriku. Segala keluh kesah, tawa canda, isak tangis semua tercurahkan padamu. Kamu bukan rumah untuk kutinggali secara fisik. Tapi kamu tempat dimana hati ini tahu rasa nyaman.

Tapi nyaman tak sepenuhnya sempurna. Bosan akan menjadi hantu yang menggoda. Memaksa terus menerus agar diri ini menjauh dari rumah.

Bukan kah disana lebih indah?
Kenapa tak mencoba diam disana?

Tak ada salahnya mencoba. Sekejap kumasuk kedalam bujuk rayu bosan. Layaknya hembusan angin. Lembutnya sutra. Senyuman yang membunuh secara perlahan. Ku mulai merasakan kenyamanan yg berbeda. Lebih hangat. Baru. Hingga mulai melupakan dirimu.

Disini bosan tak kudapatkan. Tapi selalu ada kekurangan. Tak terasa pada awalnya. Kuhanya menikmati ini. Tak peduli apapun yang terjadi. Hingga semua kenyamanan baru ternyata semu.


Melihat senyummu. Ku tersadar. Lalu menyesal. Ku berhenti. Ku berbalik. Lalu pulang, hanya pulang yang bisa kulakukan.


Kuhanya pergi bermain. Bukan untuk menemukan rumah baru. Rumahku hanya kamu. Rumahku tetap berada disana. Tak jauh dari titik awal. Tepat di kandang kelinci. Melihat kelinci kecil yang sudah menjadi dewasa. Begitu berbeda sejak pertama kaliku melihatnya.

Tapi bagiku, dia tetaplah kelinci kecil. Dan akan terus seperti itu.


Seperti itu....
Share: